Free As A Bird

0 Comments 07 November 2004 / by

aku adalah seseorang yang mencintai duniaku. mencintai kebebasanku. mencintai diriku yang bebas bagaikan burung di angkasa. aku tak punya beban atas siapapun dan tak ada yang merasa bergantung padaku. aku bisa pergi kemana aku mau. free as a bird.. the westerners say.

telah lama kujalankan hidupku seperti ini. tinggal sendiri, masak sendiri, nyuci baju sendiri, bangun pagi sendiri, sarapan sendiri, makan malam sendiri, bahkan shopping sendiri dan jalan2 dalam kesendirianku. terkadang ada seseorang yang masuk ke dalam duniaku, menemaniku dalam sekejap waktu. tapi aku akan melepasnya kala rasa bosan menghampiri. rasa bosan karena aku kangen untuk menjalankan rutinitas kesendirianku. terkadang aku senang atas perhatian yang mereka berikan padaku. perhatian lawan jenisku. belaian mereka yang aku rindukan. tapi aku tak pernah punya keinginan untuk mencintai siapapun. aku terlalu cinta diriku. aku terlalu cinta kebebasanku… kesendirianku.

aneh memang.. di kala teman2ku memutuskan untuk menetapkan pilihan pasangannya, aku memilih sendiri. berganti2 pacar rasanya lebih pas sebagai gaya hidupku. aku tak ingin tanggung jawab untuk memberikan komitmen kepada seseorang. lebih baik menjalin hubungan tanpa ada rasa komitmen itu. dan selama ini, aku senang2 saja. teman2ku sering melontarkan rasa kawatir mereka. kata mereka.. kamu sudah tidak muda lagi. tidakkah kamu ingin settle down for once and for all?. well.. honestly, belom ada pikiran itu dari dalam diriku. aku sudah senang dengan kondisiku saat ini, buat apa lagi dipersulit.

menurutku, aku lebih merasa senang dengan cara hidupku ini. hidup dengan segala kebebasanku. lihat mereka.. teman2ku yang sudah “settle down”, kemana2 harus jalan berdua dengan pasangan mereka, kalau tidak .. pasangan mereka protes. tak bisa pulang malam2, karena takut pasangannya marah .. takut dianggap tidak bertanggung jawab sama keluarga. belom lagi kalo sudah punya anak. acara makan malam yang simple pun jadi bikin repot karena harus mengurusi si kecil di sela2 perbincangan asik dengan teman2. sedihnya .. tak jarang aku harus menerima kabar sedih mereka .. dengan perceraian. melihat tomi ato tami yang mengurung diri untuk menerima kenyataan perceraian mereka. mengurus ini itu ke pengadilan, tetek bengek yang bikin pusing saja. sudah buang2 uang banyak untuk pesta perkawinan yang heboh bagaikan perkawinan keraton, tujuh hari tujuh malam .. toh akhirnya kandas dalam waktu singkat. buat apa? mendingan seperti aku. berhubungan dengan lawan jenisku tanpa komitmen.. tinggal sebut kata “putus” kalau sudah tak ada rasa atau tak ada kesepakatan lagi. singkat, tanpa tetek bengek yang bikin pusing. tanpa harus memikirkan harta gono gini yang bikin mumet kepala.

lalu.. tanpa kurencanakan .. aku bertemu dengannya. dan dia membuatku jatuh cinta. merasakan hati berbunga2, kupu2 di perut yang seakan-akan membuatku susah untuk tak memikirkannya. sosoknya yang begitu membuatku lupa akan rasa kesendirian itu. hidupnya sebebas diriku. tapi aku begitu fragile di hadapannya. lalu kutarakan maksudku. kutarakan kata cintaku.. untuk pertama kalinya. tapi, aku bukanlah siapa2 baginya. seperti halnya aku mencampakkan pacar2ku yang menginginkan lebih dariku.. semudah itu dia melepasku pergi, demi pacar barunya.

hidupku hampa sejak itu. aku tetap sendiri. tapi aku kesepian. aku tak tahu apa yang terjadi denganku. kesendirian terasa menyiksa. kebebasan terasa hampa. dalam kesendirianku, aku duduk termangu di sebuah taman. seorang ibu tua menatapku iba. sepertinya dia juga kesepian. mulailah kami bertukar kata2. ah, sungguh indah bisa bertukar pikiran dengan seseorang. kudapati kalau si ibu telah ditinggal oleh suami nya karena kanker prostat yang telah menggerogoti tubuhnya. kulihat dari bola matanya, betapa dia kehilangan laki2 yang telah menemani hidupnya selama 55 tahun dari hidupnya. tanpa kusadari, aku iri padanya. aku iri karena dia menghabisi 55 tahun hidupnya bersama seseorang yang memberikan arti hidup baginya, lebih dari sekedar pernyataan cinta. inilah yang kurang dari kesendirianku itu. walau aku masih tak tahu apakah yang aku cari itu.. tapi aku tahu, aku ingin punya itu. peace of mind. sayup-sayup ibu itu berkata lembut padaku ketika aku mengucapkan selamat tinggal kepadanya..

.. it’s companionship, dear..

:: sLesTa

Post a comment


Profile sLesTa

a worker by choice, a mother and a wife by nature / owner of slesta.com / co-founder of the urban mama / the urban muslimah | email: slesta[at]slesta[dot]com

My Instagram

Archives