Oh.. Motherhood!

5 Comments 14 June 2012 / by

Semua orang tau, namanya jadi ibu itu susah. Motherhood is the hardest job in the world. Yet, most women cannot wait to be one.

Tapi ternyata ada yang lebih susah lagi.. jadi ibu beranak dua! Atau beranak 3 dan seterusnya.. or jadi single parent! Gak kebayang deh emak2 jaman dulu yang anaknya bisa sampe belasan gitu, gimana ngurusnya ya? Well, most likely sih jadinya kualitas hidup dan pertumbuhan anak tidak maksimal, seperti hal-nya cerita orang tua gue yang dari kedua belah pihak, anaknya ada 10 orang masing2. Dari nyokap, gue sering dapet cerita tentang bagaimana susahnya nyokap semasa kecilnya, yang mesti jalan kaki ke sekolah, pagi2 sudah mesti bantu mandiin adik2nya, jualan kue, dll. Dari sisi bokap, ya gak jauh beda, apalagi orang tua bokap sudah pergi dua-duanya di saat bokap masih duduk di sekolah, meninggalkan adik2 yang juga masih kecil.

Tapi nyatanya, orang tua gue menjadi manusia-manusia yang baik kok, walaupun kualitas perhatian dari orang tua mereka tidak maksimal.

Nah di jaman sekarang ini, orang tua muda sudah gak banyak yang pengen punya anak banyak. Punya anak satu aja kadang masih nunda-nunda, lamaaa gitu mikirnya. Ya dimaklumi sih, karena pengennya memberikan yang terbaik. Kita semakin mengerti kalau punya anak itu bukan masalah bikin dan brojol aja, tapi mendidik dan membiayai sampai mereka jadi anak yang berguna. Pengaruh jelek dari sekitar lebih banyak di jaman sekarang daripada waktu jaman orang tua kita dulu. Dari urusan drugs, free sex, bullying, kidnapping, etc… stress banget ya!

Buat gue yang sekarang berstatus ibu bekerja dan beranak dua, ini sungguh beban yang luar biasa berat. Walaupun tentu aja gue dengan senang hati menjalankannya. Berat karena gue harus bisa memecah pikiran gue untuk bisa fokus ketika di kantor dan di rumah. Tapi ini juga gak gampang, karena ketika gue ada di kantor, urusan anak tetap harus bisa gue keep up, termasuk urusan management ASIP di tengah2 waktu kerja gue. Ketika gue di rumah pun, gue harus bisa fokus dengan tidak mengecek smartphone ketika bermain bersama anak, tapi nyatanya, gue mesti tetap ngecek komputer dan email kantor karena kerjaan terpaksa di bawa ke rumah, demi keep up sama tuntutan kerjaan di kantor.

Sejak kembali ke kantor setelah cuti melahirkan kemaren, tiap hari gue bangun paling telat jam 6 pagi. Biasanya untuk menyusui Neishia, bangunin Naia & nyiapin untuk sekolah & pergi ke kantor. Kalau pas jadwal lari pagi, jam setengah 7, gue sudah keluar rumah dan berlari mengitari reservoir yang letaknya tepat di depan apartment building gue. Satu putaran itu sekitar 4.5K, tapi biasanya gue tambah sedikit supaya dapet 5K, sekalian arah pulang ke apartment. Biasanya gue butuh sekitar 45 menit in total, ini sekalian waktu cooling down & stretching.

Sampai di apartment, Naia & Neishia biasanya sudah bangun dan hubby sudah siap untuk pergi ke kantor. Naia sudah mulai sarapan, sementara Neishia asik bermain sama Papanya. Kalau Naia belom mulai sarapan, gue ajak ikutan mandi bareng gue, jadi sekalian dan biasanya ini juga bikin Naia jadi lebih tame, gak marah-marah dan cepet beres urusan siap2nya.

Tepat setengah 9, biasanya gue sudah selesai dandan, Naia sudah selesai sarapan. Kadang gue sempetin sarapan kecil lalu nyusuin Neishia sebelum ke kantor, kadang gue langsung ke kantor bareng Naia yang gue drop dulu di sekolahnya.

Gue sampai di kantor sekitar jam 9 lebih (thank God Singapore gak macet2 amat, walaupun tetap ada macetnya kok kalo pagi2), dan langsung fokus dengan kerjaan sampai jam makan siang. Waktu makan siang gue hanya butuh 30 menit, karena gue mesti mompa, dan kembali melanjutkan kerja sampai jam setengah 6, karena harus lanjut siap2 pulang untuk jemput Naia di daycare. Sebelumnya gue sempetin untuk mompa lagi karena hasil pompaan tiap hari mesti sesuai dengan ASIP yang keluar dari freezer, kalo gak tekor deh!

Kalau kerjaan belom beres, apalagi kalo pas lagi waktu sibuk di kantor, apa boleh buat, sampai di rumah pun gue mesti buka komputer dan lanjut kerja. Walaupun kadang ini sambil megang Neishia yang langsung nemplok gak mau lepas, atau Naia yang minta perhatian buat nemenin dia gambar, menulis, etc. Kadang kalau hubby sudah di rumah, gantian attend each kid. Jam 8 malam, biasanya kita makan malam, lalu gue sudah mesti siap2 ngajak Naia sikat gigi, nidurin Neishia, trus nidurin Naia. (Un)fortunately dua-duanya harus tidur sama Mama. Naia memang gak bisa tidur kalau gak dikelonin gue, dan gak mau tidur sama papanya. Sementara Neishia, karena masih menyusui, ya mesti sama gue. Most times, gue biasanya nyusuin Neishia sampai kenyang sebelum nidurin Naia, dan Neishia pun tidur sendiri di cot-nya atau sambil di gendong Papanya. Pokoknya, bagi2 tugas deh..

Setelah nidurin Naia, gue biasanya ikutan tepar dan ga bisa bangun lagi.. hihi.. tapi kalau emang ada yang mau dikerjain atau bisa melek, gue either lanjut kerja atau gak gue nonton TV, catching up on the TV series I recorded. Then I fall asleep around 11, and everything starts all over again in the morning.

Kalau melalui hari-hari ini, gue hanya bisa bersyukur gue tinggal di negara yang memungkinkan buat gue bisa pergi ke kantor yang jaraknya sekitar 15K dari rumah, dalam waktu singkat, tanpa acara macet berjam-jam seperti di Jakarta. Masih diberi kemudahan dengan punya helper yang bisa bantu jagain Neishia, mengurus rumah, nyuci baju, nyetrika dan masak. Jadi walaupun gue tetap berkarir, gue tetap bisa ngurusin rumah & anak. Well, gak 100% ngurusin rumah sih, tapi ya itu untungnya ada yang bantuin di rumah.

Ketika harus susah membagi waktu antara anak yang gede dan yang kecil, gue juga harus membagi waktu dan pikiran gue antara kantor dan rumah. Sulit? Pasti! Impossible? Tentu tidak! Setiap hari, gue berpikir, kalau emak2 di kantor yang sekarang sudah duduk di posisi yang tinggi, punya anak-anak yang udah kuliah, pasti mereka juga mengalami masa-masa kayak gue yang kejar2an antara ngurusin anak dan rumah. Jadi, kalau mereka bisa, kenapa gue gak?

Gue selalu salut sama para ibu-ibu muda yang berhati mulia dengan meninggalkan kerjaannya demi mengurus anak & rumah. Benar-benar pengorbanan yang luar biasa. Tapi bukan berarti wanita-wanita macam gue (yang pastinya banyak kok di luaran sana) gak luar biasa loh. Kita2 ini masih tetap bertahan untuk tetap bekerja walau waktu bertemu dengan anak benar2 minim, dengan alasan masing2.. Pengorbanan untuk meninggalkan anak di asuh oleh orang lain itu yang menjadi pengorbanan terbesar. Dan itu lah yang selalu gue rasakan. Beruntung, walaupun gue meninggalkan anak2 untuk diasuh orang lain selama gue di kantor, gue masih bisa ikut mengurus mereka di pagi dan malam hari. Gue tetap jadi orang pertama yang mereka lihat di ketiga bangun di pagi hari, dan orang terakhir ketika mereka tidur di malam hari. Banyak yang harus pergi meninggalkan keluarga dan tanah air demi mencari duit, seperti mbak-mbak TKW, termasuk ART gue sekarang yang meninggalkan 3 anaknya di Indonesia, untuk mengurus anak orang lain di negeri orang. Atau orang tua tunggal yang harus berperan dobel demi anak-anaknya. Hebat banget pengorbanannya!

Intinya, semua orang tua selalu yang terbaik untuk anaknya. Tapi setiap orang tua punya caranya masing-masing untuk meraih itu, dan kita tidak bisa menilai dan mengatakan bahwa yang di lakukan si mama A salah, cuz unless you are in her shoes, you have no right to say anything..

Tulisan ini hanya untuk mengingatkan gue, despite of the hectic arrangements, dan perasaan capek yang gak abis-abis setiap mau tidur di malam hari.. I gotta say, I have a pretty good arrangement so far.

Alhamdulillah.

picture courtesy of mbamommy.wordpress.com

Your Comments

5 Comments so far

  1. *peluk Shinta*
    trus kalau liat anak2 pamer hasil gambar/mewarnai/menulis langsung hilang semua lelah kan…. Alhamdulillah….
    *peluk Shinta lagi lebih kenceng*

  2. Maya says:

    Hi Mba Shinta,
    salam kenal.. I’m totally agree with you. A working mom should not be less appreciated. Because she fully dedicates her life to her family, her job, her coworker/staff’s life and even to her surrounding society. tetap semangat!!

    -from a regular visitor of theurbanmama.com & frequent reader of your blog ^_^ –

  3. sLesTa says:

    @Simboknya Aria: *hugs back*

    @Maya: every mom has their own sacrifices. and every mom is great. so, no point labeling and finding out which one is better, cuz being a mom is hard enough, whether you are a stay at home mom, an employed mom, work from home mom, at the end of the day, you are a mom, no matter what! each one has their own plus and minuses :))

  4. Valent says:

    Hi, Shinta
    Thumb up atas blog2 nya…somehow buat tambah semangat kalau gak sendirian ..that’s Motherhood life..walaupun ‘jam terbang’ gw udah lbh tinggi..udah different stage..sekarang lbh consent ke pendidikan anak2, drpd phisically taking care..ngajarin, cek PR, anter jemput les.
    But always take it as part of Motherhood , commitment kita pd family , anak2…I call this our privilege…so..keep it up!!!You can do it!!!

  5. marihuanie says:

    ngerasa senasib sama mba Slesata.. tiap bocah2 udah tiodur rasanya seneng banget!, hihihi… I’m living in Taipei for master degree, without helper, with 2 toddlers. so far, I have pretty good arrangements too, walaupun tiap hari rasanya mau meledak 😀


Post a comment


Profile sLesTa

a worker by choice, a mother and a wife by nature / owner of slesta.com / co-founder of the urban mama / the urban muslimah | email: slesta[at]slesta[dot]com

My Instagram

Archives