TKW = Working Woman

3 Comments 12 June 2012 / by

Sering kali kita mendengar tentang kejadian-kejadian buruk yang menimpa para TKW di luar negeri. Miris rasanya mendengar nasib mereka yang gak di negeri sendiri atau di negeri orang, tetap terinjak-injak harga dirinya. Dari perlakuan kasar oleh majikannya, lalu kembali ke Indonesia dan dikejar-kejar calo di terminal demi memeras uang yang mereka bawa dari hasil kerja keras mereka selama di luar negeri.

Walaupun saya bukan domestic worker, saya juga termasuk TKW kan harusnya? Kan saya kerja di negeri orang … Memang, hasil kerja saya tidak untuk menghidupi orang tua atau keluarga di Indonesia, seperti layaknya para wanita yang memilih untuk bekerja jadi foreign domestic worker (ART) di negara orang. Tapi buat saya, kedudukan kami sama. Kami sama-sama seorang wanita pekerja yang mengadu nasib di negeri orang.

Sebagai seorang pekerja professional, banyak hal yang saya minta untuk hak saya sebagai seorang pekerja diantara kewajiban-kewajiban yang harus saya jalankan. Tentunya hak-hak tersebut harus dipenuhi oleh employer saya, atau kalau tidak, saya akan pindah bekerja ke kantor lain. Apabila saya tidak merasa hak saya dipenuhi, saya bisa protes dan menuntut hak saya. Lalu saya tidak habis pikir, kenapa kejadian ini justru berakibat fatal apabila teman-teman TKW melakukannya? Contoh yang paling sering saya dengar adalah, meminta waktu cuti dari pekerjaan sehari-harinya. Tidak ada salahnya kan kalau seorang pekerja meminta waktu cuti dari pekerjaannya? Apalagi domestic worker ini bisa bekerja 24 jam sehari loh! Mengurus anak dan membersihkan rumah dari pagi sampai malam, memasak, cuci mobil, mengepel, menyetrika, mencuci baju. Lalu tidak jarang mereka pun tetap harus siaga di malam hari karena anak majikan disuruh tidur dengan mereka, jadi sewaktu-waktu si anak terbangun tengah malam, mereka lah yang bertanggung jawab untuk menidurkan kembali si anak. Sementara sang majikan tetap mendapatkan tidur malamnya dengan baik karena harus bekerja di pagi harinya. Lalu, apakah mereka tidak berpikir kalau domestic worker mereka pun juga harus bangun lebih pagi dan memulai kerja lebih awal dari mereka? Sungguh sangat tidak adil!

Sebagai seorang Ibu, saya tahu benar ini. Ini sebabnya saya yang juga mempunyai seorang domestic worker di rumah, ingin memberikan fasilitas yang baik dan layak. Buat saya, mereka adalah asisten yang membantu saya di kala saya tidak bisa melakukannya sendiri. Contohnya ketika saya harus berada di kantor seharian, asisten saya lah yang membantu membersihkan rumah, memasak, dan menjemput anak saya sepulang sekolah. Ketika saya pulang, secapek apapun saya, saya yakin kalau asisten saya lebih capek dari saya karena sudah menjaga anak saya seharian. Jadi saya ambil alih anak saya dan saya mewajibkan anak saya tidur dengan saya kalau tidak mau tidur sendiri. After all, this is the time I can be there physically as a mom.

Asisten saya bernama Nawiyah, atau lebih akrab kami panggil Iyah. Dari awal dia bekerja dengan saya, saya sudah mengenal karakternya karena sebelumnya Iyah sudah bekerja beberapa tahun untuk Ibu saya. Sewaktu Ibu saya meminta Iyah bekerja untuk saya di Singapura, tentu saja dia senang sekali, karena ya artinya dia akan bekerja di luar negeri, bisa cas cis cus berbahasa Inggris, dapat gaji dollar, dan seterusnya dan sebagainya. Tapi keluarga saya selalu menanamkan kalau hidup dan bekerja di luar negeri tidak hanya glamour saja. Namanya bekerja, dimana pun lokasinya, perlu determinasi, kerja keras & tanggung jawab. Untungnya Iyah memang anak yang bertanggung jawab sekali. Dia pun menjalani kerjanya dengan baik, menjaga anak saya dengan kasih saying dan penuh perhatian.

Di tahun kedua, Iyah meminta ijin untuk tidak melanjutkan kontrak kerjanya karena ingin pulang ke tanah air dan menikah. Kami pun bertanya, nanti mau bekerja jadi apa di Indonesia? Jadi PRT juga? Atau kerja di pabrik? Kok sepertinya tidak ada kemajuan? Kami menyayangkan sekali karena Iyah termasuk anak yang pintar. Sebagai PRT, dia mempunya inisiatif yang bagus, tak jarang dia melakukan sesuatu tanpa perlu saya beritahu dan semuanya bisa berjalan dengan baik. Tentunya saya belom rela kalau mesti nyari PRT yang baru, tapi saya juga gak mau untuk menjadi penghalang kebahagiaannya. Tapi saya ingin supaya ketika Iyah kembali ke tanah air, dia bekerja dan mempunya penghidupan yang layak. Dulu, waktu masih bekerja dengan ibu saya, sebenarnya ibu saya menawarinya untuk kembali ke sekolah, karena Iyah hanya lulusan SMP. Tapi Iyah kala itu tidak mau, maklum waktu itu usianya masih masuk masa-masa remaja yang hidupnya jadi penuh dengan mikirin cowok dan pacaran.

Saya bertekad, kalau Iyah benar ingin kembali ke Indonesia dan berhenti bekerja dari saya, dia harus bisa memiliki skillsets yang lebih yang akan membantunya untuk mendapatkan hidup yang layak dan lebih baik dari sekadar menjadi seorang PRT. Lalu saya mulai mencari informasi tentang sekolah atau kelas khusus untuk Iyah belajar bahasa Inggris. Paling tidak, ini penting supaya Iyah bisa berkomunikasi dengan baik selama di Singapura, juga dengan anak saya yang sudah mulai masuk sekolah dan mulai belajar bahasa Inggris. Dengan ini, artinya Iyah harus mengambil cuti tiap dua minggu sekali, untuk pergi ke kelas dan belajar. Di hari pertama pun, saya yang mengantarnya ke sekolah dan melihat kurikulumnya. Lalu berikut-berikutnya Iyah pergi dengan naik bis sendiri. For most, ini bisa jadi sebagai ‘pengorbanan’ karena berarti di satu hari penuh itu, saya yang harus mengurus semua keperluan rumah dan anak saya sendirian. Tapi buat saya ini bukan pengorbanan, tapi jadi waktu yang baik untuk saya benar2 fokus mengurus anak saya tanpa bantuan orang lain, dan Iyah bisa menikmati waktu ‘libur’nya, lepas dari mengurus urusan rumah & anak.

Setelah beberapa bulan, Iyah mulai suka dengan ritme pergi ke “sekolah” tiap dua minggu sekali, dan dia pun menambah kurikulumnya dengan mengikuti kelas komputer, dan lalu akhirnya dia mengikuti program paket supaya mendapatkan ijazah SMA. Malah Iyah pun berpikir kalau sudah dapat ijazah SMA, untuk mengikuti kelas di Universitas Terbuka. Wow! Tentu saja kami dukung 100%. Tiba saatnya kami harus memperpanjang kontrak kerjanya, dan Iyah pun akhirnya luluh untuk menambah dua tahun lagi katanya. Usut punya usut, karena putus sama pacarnya. Ya bagus deh! Bukannya kami tak senang kalau Iyah akan menikah dan berkeluarga, tapi di umurnya yang masih belom 21 tahun kala itu, saya merasa, dia masih punya banyak kesempatan lain yang bisa diraihnya.

Sering kali suami saya meledek Iyah dengan berkata, “Kamu ngapain sih pengen cepet cepet kawin? Itu mbak Shinta aja baru nikah di umur 29, Yah!”. “Mbak Shinta kan working woman, Mas, sempet sekolah dulu juga sambil kerja, jadi wajar kalau nikahnya gak buru-buru,” jawab Iyah polos. Lalu suami saya pun menjawab, “Lalu memangnya kami bukan working woman? Kamu kan juga wanita pekerja, bekerja mencari duit untuk keperluan kami dan keluarga kamu. Bangun dari pagi, kerja sampai malam, trus sekolah juga kan sekarang. Lalu bedanya apa?”.

Iyah pun terdiam dan saya pun tersenyum.

——–

Tulisan di atas sebenernya saya tulis untuk salah satu majalah wanita di Indonesia. Sayang ternyata tema-nya kurang pas, jadi tidak pernah di publish. Tapi tulisan ini tetap saya simpan. Ketika saya menulis ini, Iyah masih bekerja dengan saya. Iyah baru saja pulang ke Indonesia hari Minggu lalu, pulang for good ke Indonesia dan tidak bekerja lagi dengan saya karena akan menikah bulan depan.

Beberapa hari sebelum kepulangan Iyah, saya sempat berpikir.. nanti di Jakarta dia akan ngapain yah? Kayak gak rela dia pergi, tapi bukan gak rela kenapa2 sih, ga rela karena berarti hidupnya akan lebih “susah” walopun disini juga gak hidup enak karena kan harus kerja, jauh dari orang tua. Tentunya ini pemikiran saya aja, mungkin justru bagi Iyah, kepulangannya ke Indonesia adalah awal dari kebahagiaannya, menikah dengan lelaki pilihannya dan akhirnya bisa bekerja, berkumpul dan mencari duit dekat dengan keluarga.

Satu hal yang saya sukuri, Iyah berhasil lulus SMA lewat kejar paketnya. Mudah2an menjadi bekal kerjanya nanti walaupun lulus SMA gak menjamin kerjaan yang bagus, tapi paling tidak menambah bekalnya untuk hidup lebih baik. Sayang dia tetap lebih memilih menikah daripada meneruskan untuk kuliah. Whatever her decision is.. I wish her a very good luck!

Bye Iyah, thanks for helping us for the past 4 years and become a part of Naia in the first 4 years of her life. I’m sure Naia will be missing her the most.

Your Comments

3 Comments so far

  1. yustin says:

    terharu deh.. :’)

  2. pic terakhir,,,:(:(

    skrg Iyah udh punya bekel & pasti Naia kangen g sama mbk Iyah?

  3. fanny says:

    spot on. ART masih dianggap lebih rendah derajatnya dr majikan. kl mereka nuntut hak, dianggap ngelunjak.. i think its good that u’re happy and support iyah’s decision. semoga makin byk majikan yg kyk elo :))


Post a comment


Profile sLesTa

a worker by choice, a mother and a wife by nature / owner of slesta.com / co-founder of the urban mama / the urban muslimah | email: slesta[at]slesta[dot]com

My Instagram

Archives