Agree to Disagree, Be Tolerant

1 Comment 10 August 2012 / by

Tahun ini adalah tahun ke-15 gue berpuasa di negeri orang. Wow! Pas ngitung2 tadi langsung kaget gedubrakan. Buset.. lama amat yah? Iya sih, ada 2 tahun di tengah2 yang gue bisa berpuasa bareng keluarga di Indonesia, waktu sebelom gue akhirnya pindah ke Singapore kemaren. Tapi in total ya gue sudah merasakan 15 kali berpuasa tidak di negeri sendiri.

Kalau ditanya gimana rasanya? Ya biasa2 aja. Puasa itu kan ibadah untuk diri sendiri, dimana ya elo mau boong, mau gak, gak bakal ada yang tau kecuali diri elo sendiri sama yang diAtas. Kalau ibadah lain kan orang bisa liat, kalo puasa, bener2 it takes control and your honesty. Kalau kata bos gue, it takes discipline and determination to be able to do that. Well, there are a lot of things in life that takes discipline and determination, which usually leads to success. Buat gue, berpuasa hanya masalah habit. Iya, kebiasaan yang sudah gue lakukan sejak kecil.

Sebenernya gue berniat menulis ttg puasa sejak di awal Ramadhan taun ini, tapi bingung mau bahas ttg apanya. Bahas awal2 gue puasa, kayaknya udah kadaluarsa bener. Bahas ttg berpuasa di negeri orang, juga udah dari dulu. Jadi apa dong?

Nah semalem, gue lagi ngobrol sama suami sebelom tidur, trus dia bacain pertanyaan2 kocak ttg puasa. Dari yang boleh gak nelen ludah, sampe bahasan ttg bagaimana menanggapi teman-teman kantor yang tidak menghormati orang2 yang berpuasa dengan mengonsumsi makanan dan minuman ketika di bulan Ramadhan.

Yak! That’s exactly what I should be discussing. Especially that we’ve been hearing about how some groups of people in Indonesia would ransack food stalls just because they are open for business during the day in Ramadhan.

Menurut pandangan mereka, restoran2 yang masih menjual makanan selama bulan puasa itu, tidak menghormati orang yang berpuasa. Menurut pandangan gue? That’s a bunch of BS!

Sorry to say it so frontal like that, apalagi di bulan puasa begini. But seriously, kenapa yah grup yang ngaku2 pembela agama ini tapi cara berpikirnya dangkal banget. Well, we all know that they are, tapi ini yang bisa bikin negara dan keharmonisan beragama jadi terancam. Memangnya dengan gak jual makanan di siang hari selama bulan puasa itu, artinya gak menghormati? Trus bagaimana dengan masyarakan non-muslim yang perlu nyari makan pas jam kerja, misalnya? Apa disuruh semuanya bawa makan sendiri? Gimana mau belinya? Semua tempat makan aja gak boleh buka? Apa mereka tidak berpikir untuk kita pun perlu menghormati mereka yang tidak berpuasa? Termasuk ibu2 yang sedang hamil dan lagi menyusui, misalnya?

Kalau memang mau puasa, berniat untuk puasa, menjalankan ibadah ini dengan sebenarnya, kontrol itu datang dari kita sendiri. Dan tidak hanya menahan haus & lapar, tapi juga segala yang berhubungan dengan nafsu. Nafsu berbelanja, nafsu dengan sesama, marah2, ngomongin orang, dll. Itu letak inti ibadahnya. Mengontrol hawa nafsu. Hindari yang tidak baik. Jadi mau ada orang makan dan minum di depan mata, kalau memang kita bisa kontrol dan ikhlas menjalankan ibadah, ya cuek aja.

Gue bukan ustadzah, ilmu agama gue juga masih cetek, shalat juga masih bolong2. Tapi dari pengalaman gue yang selama ini beribadah di luar negeri, dan menjadi minoritas di antara orang2 yang non-muslim, gue beribadah tanpa harus berpikir gimana orang lain menanggapi ibadah gue.

Kalau gue mau madol sih, bisa2 aja kok gue ga puasa. Siapa yang merhatiin? Orang tua? Mertua? Mereka kan jauh. Jadi balik ke diri gue sendiri. Gue beribadah untuk gue. Di tengah2 teman2 satu tim yang semuanya non-muslim, melihat mereka minum kopi di pagi hari, lalu makan siang, bawa snack2 seru di sore hari, bisa aja gue tergoda. Tapi nyatanya itu lah cobaan untuk gue dan makin kesini gue makin terlatih untuk tidak tergoda. Udah lempeng aja gue lagi haus2 setengah mati, ngeliat ada orang minum ice tea dengan nikmatnya di depan gue.

Dan kalau dipikir2, pada saat bulan puasa ini lah gue melatih diri gue untuk mengontrol keinginan yang macem2. Yang akhirnya gue terapin di kehidupan sehari-hari, even ketika gak di bulan puasa.

Setiap gue berpuasa di luar negeri, gue justru merasa senang banget. Senang karena gue bisa menepis segala godaan yang datang. Karena godaan2 itu, gak terlalu terlihat kalau gue puasa di Indonesia. Saking senangnya, kadang gue suka lanjut berpuasa Syawal setelah lebaran, juga puasa Senin Kamis. Dan rasa kebahagian atas kemenangan di Hari Raya Idul Fitri itu jauuhh lebih nikmat kalau gue puasa di negeri orang. Puasss banget bisa melalui segala godaan selama sebulan penuh.

Tapi begitu gue balik ke Indonesia, berpuasa itu jadi terasa ‘hambar’. Karena semua orang juga berpuasa, gak ada godaan dari ngeliat orang makan atau minum di depan gue. Paling banter, godaan terbesar adalah supaya ga marah2 di jalanan, atau mencoba bersabar melihat motor2 selap selip sana sini. Walopun kalo udah keterlaluan ya kesel2 aja. Klakson sana sini.

Buat gue, justru puasa di Indonesia itu gak jadi lebih khusyuk. Walaupun memang nikmatnya luar biasa karena bisa menjalankan dengan keluarga dan teman2. Bisa ketemuan buka puasa bersama dengan banyak teman lama dan keluarga. Waktu bekerja “berkurang” karena jam kantor disesuaikan dengan waktu berbuka puasa. Menikmati makanan yang hanya keluar setahun sekali di bulan Ramadhan. Mendengar adzan dan takbiran mengumandang. Shalat tarawih ramai2 di mesjid.

Tapiii.. kemenangan gue rasakan ketika berpuasa di LN itu beda, karena tanpa semua di atas, gue bisa tetap menjalankan puasa dengan sempurna sebulan penuh. Walopun tanpa takbiran mengumandang, tanpa rame2 shalat tarawih di mesjid, berbuka sekadarnya dan lanjut bekerja. Tanpa cuti bersama seminggu lamanya, cukup 1 hari saja. Dulu bahkan pernah waktu di Amerika, gue hanya ijin untuk Shalat Ied, abis itu siangnya balik ke kantor atau lanjut kuliah. Berlebaran tanpa sayur nangka & ketupat buatan nyokap. Berlebaran hanya dengan teman-teman, kadang hanya sendirian.

Apapun itu, semuanya tetap nikmat. Alhamdulilah.

Gak perlu minta dihormati oleh kaum yang minoritas, start from yourself. Have you respect them too?

Disini, sebagai yang minoritas, gue malah kadang malah ngerasa lebih dihormati. Teman-teman satu tim yang ber-10 rela mencari restoran yang halal untuk team lunch, walaupun makanannya biasa aja, supaya gue bisa ikut makan2 bareng. Atau rela mengundur waktu makan2 setelah bulan puasa selesai, supaya gue bisa tetap hadir. Bahkan rela untuk take over kerjaan gue pas waktunya buka puasa, atau ketika gue minta cuti lama, supaya bisa berlebaran dengan keluarga di Indonesia. Sementara di Indonesia sering mendengar yang non-Muslim mengalami kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang mengaku beragama Islam, dengan melarang teman-teman non-Muslim beribadah. Kenapa ya? Padahal jelas2 di Al-Qur’an disebutkan “Lakum Dinukum Waliyadin.. ” Untukmu agamamu, dan bagikulah, agamaku.

Ingat juga waktu gue kerja di NY dulu. Gue yang Muslim bekerja pada American yang non-muslim, lalu gue selalu dipinjemin ruangan kerja oleh salah satu direktur yang seorang Yahudi, supaya gue bisa shalat dengan nyaman, karena dia sering keluar kantor. Bahkan ketika dia ada di kantor pun, dia akan keluar dari ruangannya ketika waktu shalat datang, supaya gue bisa shalat dengan khusyuk di ruangannya. Kalau sudah gitu, gue suka mikir, kenapa itu Yahudi & Muslim saling bermusuhan dan bunuh-bunuhan di Jalur Gaza? Sementara secara individual, toleransi itu bisa dijalankan. Politics came in the middle of it. And it’s a whole other blog post to discuss.

Toleransi beragama. Saling menghormati kepercayaan masing2 dengan tidak memaksakan diri. Just agree to disagree. That’s called religious harmony. Something we all should learn in Indonesia. Let’s start from us, hopefully followed by others.

image was taken with minor edit from blogustazsyazwan.blogspot.com

Your Comments

1 comment

  1. adi says:

    keren, mbak, 🙂


Post a comment


Profile sLesTa

a worker by choice, a mother and a wife by nature / owner of slesta.com / co-founder of the urban mama / the urban muslimah | email: slesta[at]slesta[dot]com

My Instagram

Archives