Pentingnya Bermain – Kids Today Project

4 Comments 05 May 2014 / by

Beberapa minggu yang lalu, ada artikel menarik di The Urban Mama, tulisan dari Ipeh. Part of Kids Today Project, yang di sponsori oleh Rinso, ada video yang di share disitu yang menurut gue, menunjukkan betapa padatnya jadwal anak-anak sekarang.

Gue sangat setuju, sebagai anak-anak biarkan mereka bermain dan jangan dibebankan oleh segala bejibun aktivitas. Tapi on the other hand, sebagai seorang Ibu yang anaknya sebentar lagi mau masuk SD, melihat aktivitas2 itu juga penting. Selama aktivitas itu dilakukan dengan fun dan bagian dari bermain. Dan karena anak saya masih di TK, saya belum merasa kalau so far kegiatan Naia itu penuh dan bejibun sih, jadi saya masih tetap menekankan bermain itu penting untuk dia sehari-hari. Kadang saya malah bingung kok anak ini maunya maiinnn mulu ya? Tapi ya memang semestinya begitu :)

Di jaman yang serba maju dan digital seperti sekarang, dimana orang tua juga sibuk dengan kerjaan di kantor, anak-anak terbiasa untuk melihat dan hidup di era yang juga digital dan serba instan. Kegiatan mereka di rumah, ketika orang tua nya bekerja, adalah menonton TV atau bermain games di TV. Sebagai orang tua yang bekerja, saya lebih memilih anak saya ada di dalam rumah ketika saya masih di kantor daripada bermain di luar rumah dengan resiko yang sangat tinggi. Apalagi mendengar berita2 menyeramkan seperti korban seksual di Indonesia saat ini. Walaupun saya tidak tinggal di Indonesia, dan tinggal di negara yang relatif aman, bukan berarti saya bisa membiarkan anak saya pergi hanya dengan ART untuk bermain di luar.

Let’s face it, jaman sekarang berbeda dengan jaman dulu.

Lagi sering kan tuh kita liat meme-nya di sosial media, dimana jaman kita dulu, di saat alat komunikasi hanya berupa telpon rumah, kita bisa ketemu dengan teman-teman bermain di taman dekat rumah. Keluar rumah dari pagi sampe sore, bahkan saya ingat dulu saya pergi sekolah aja sendirian pas saya masih SD. Naik angkot dari rumah saya ke sekolah. Dilepas-lepas aja tuh sama Mama saya. Padahal di rumah ada mobil. Jaman sekarang? It’s unthink of!

Oleh karena itu, wahana bermain mesti sedikit di rubah sekarang. Bukan berarti jadinya anak-anak tidak boleh bermain, tapi porsinya lebih berkualitas dan gak mesti digital. Saya akui, terkadang saya biarkan Naia bermain dengan iPhone lama saya, menonton film-film favoritnya atau games-games edukatif. Terus terang, games tersebut memang membantu sekali, bahkan Naia jadi belajar alphabets lewat games tersebut sebelum dia berumur 3thn. Tapi saya tidak mau anak saya jadi dependent dengan gadgets.

Karena saya bekerja dari pagi sampai sore, jadi saya memilih Naia ada di daycare full day. Kenapa? Karena di daycare, dia tidak hanya belajar, tapi bermain. Contohnya:

1. Di daycare, saya memprogram Naia untuk mengikuti after-school activities berupa sports, arts and drama. Jadi setelah acara belajar selesai, dia tidur siang di sekolah lalu after tea break, dia mengikuti kegiatan extra-curriculer berupa sports, arts, & drama. Sports supaya badannya bergerak dan keringatan, Arts supaya fine motor skills nya terlatih dan Drama supaya dia lebih confidence dan bermain dengan teman-temannya memerankan karakter2. Yang pasti, tas Naia kalau saya jemput dari daycare sore hari, penuh dengan noda, lem bekas crafting, atau bekas cat dari kelas artsnya.

2. Di rumah, setelah saya jemput dari daycare, Naia saya ajak bersepeda, atau berenang, atau ke playground. Kadang kalau sudah terlalu malam sampai rumah dan sudah makan malam, saya atau suami, mengajak Naia bermain membuat puzzle atau crafts, atau kalau sudah bosan, belajar piano. Mungkin piano atau puzzle sepertinya bukan bermain ya, tapi sebenarnya ini adalah bermain tapi terarah. Belajar sambil bermain.

3. Akhir pekan, biasanya Naia sibuk dengan les. Madrasah, les piano, les berenang. Sibuk memang, tapi saya pastikan setelah les, saya ajak untuk bermain. Entah itu di playground, di taman, atau sekedar ketemu dengan teman-temannya. Atau kalau saya sudah terlalu capek untuk keluar rumah, kami melanjutkan kegiatan baking session kami di pagi hari.

Intinya, menurut saya it’s okay kok kalau kegiatan anak itu padat, selama kegiatannya tidak membuat dia stress dan tetap menyenangkan. Dan tentunya apapun kegiatannya, orang tua mesti ikut campur dan mengarahkan kegiatannya. Apapun kegiatannya, kalau dilakukan dengan fun, anak pasti tidak merasa stress dan capek. Selama ada porsi yang sesuai dan tidak dipaksakan.

Semoga saya pun tetap mengingat ini nanti, setelah Naia sudah mulai masuk sekolah dan harus menghadapi kewajiban-kewajiban dari sekolah. Tetap membiarkannya untuk mempunyai waktu untuk bermain, “me-time” nya sebagai anak-anak :)

Your Comments

4 Comments so far

  1. zata ligouw says:

    Setuju Shin, meski pun kegiatan anak2 banyak tp kalo itu adalah pilihan dan kemauan mereka, gw pasti mendukung. Misalnya anak2 gw yg udah SD ikut taekwondo, bola, nari, dll, ya itu adalah pilihan mereka dan buat mereka kegiatan itu juga adalah bentuk lain dari bermain..

  2. Salam kenal.
    Thakns mba shinta sharingnya.
    Asik sekali ya sepertinya kalau anak sdh seumuran naia. Ngatur jadwal bermain sambil belajar. :)

  3. hobilari says:

    Bagus sekali program belajar dan bermainnya untuk Naia ya Mbak Shinta. Saya sebisa mungkin juga memberikan kesempatan anak bermain dan kadang membuat mainan kreatif sendiri, karena anak saya maunya beli beli terus dari toko mainan. Sesekali saya ajak bikin mainan sendiri..

  4. Putri says:

    kunjungan perdana, salam perkenalan ya bu ^_^


Post a comment


Profile sLesTa

a worker by choice, a mother and a wife by nature / owner of slesta.com / co-founder of the urban mama / the urban muslimah | email: slesta[at]slesta[dot]com

My Instagram

Archives